
Kronologis Kericuhan Pilpres 2014 di Hong Kong. Penuturan di bawah ini dikutip tanpa edit sedikit pun dari staf Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Hong Kong, Yolvis Sahardi , sebagaimana dimuat di Facebooknya.
Meskipun blog ini adalah Demo Template Cibi Magz (New Fastest Magz) yang seo friendly dan fast loading, gak ada salahnya 'kan sesekali diisi posting "serius"?
Untuk Teman yang bertanya tanya, ini penjelasan saya semoga bisa mengerti meskipun agak panjang. Maaf terlambat, karena saya menyiapkan penjelasan ini sambil dikejar kejar menyiapkan hal lain diwaktu kerja saya.
Saya disini ingin berbagi apa yang saya lihat dan saya alami sendiri di menit-menit akhir pemilihan calon presiden dan wakil presiden yang dilaksanakan di Victoria park, Hong Kong kemaren 6 Juli 2014. Saya sampaikan ini karena begitu banyaknya berita beredar, dan teman teman yang bertanya dan minta klarifikasi kebenarannya, sementara saya sendiri memang ada di lokasi kejadian dengan memegang kamera menghadap mereka pada saat saat akhir itu.
Awalnya Pemilu Capres ini berjalan lancar, dimana Petugas PPLN dan KPPSLN sudah siap di lokasi pukul 7.00 dan kemudian PPLN ini membagikan logistik seperti kotak suara, surat suara atribut atribut dan papan petunjuk serta ATK kepada masing masing KPPSLN, petugas KPPSLN lalu menata di TPS masing masing dan pemilihan dimulai sesuai dengan rencana pukul 9.00.
Pada saat waktu berjalan dari pukul 9.00 – 17.00 setiap TPS bekerja dengan sangat cepat karena harus menyelesaikan paling sedikit 200 orang pemilih per jamnya. Artinya setiap menit panitia di tiap TPS dari 13 TPS yang ada harus berusaha untuk menyelesaikan 3 orang pemilih.
Mengapa dipaksa begitu cepat bekerjanya, karena jumlah pemilih yang datang memang sangat banyak sekali. Sebagian besar dari pemilih ini adalah pemilih yang belum terdaftar sama sekali namun ingin memilih dan mereka ini diijinkan juga memilih asalkan mereka didaftarkan terlebih dahulu pada pihak panitia yang sudah menyiapkan perangkat computer sebelumnya.
Panitia membagi jalur masuk menjadi 3 jalur yang terdiri dari:
- Jalur hijau yang khusus untuk mereka yang bawa undangan (meskipun jam yang ditentukan tidak sama dengan jam kedatangan mereka namun tetap diijinkan memilih)
- Jalur Kuning yang khusus untuk mereka yang belum mendaftar sama sekali dan hanya berbekal KTP Hong Kong atau Pasport datang ke tempat pemilihan. Mereka ini yang jumlahnya paling banyak hampir 70% pemilih. (mereka akan diijinkan memilih setelah didata petugas terlebih dahulu)
- Jalur Merah, mereka ini adalah yang bingung karena berbagai hal, misalnya sudah terdaftar melalui pos tetapi berubah ingin memilih langsung saat itu atau mereka yang sudah terdaftar tetapi kartunya hilang atau mereka yang sudah terdaftar tapi tidak tahu apa apa.
Sempat terjadi guyuran hujan deras beberapa menit di pagi hari sekitar pukul 10.10 yang membuat pemilih dan panitia panik. Pemilih panik karena tidak mau keluar dari antrian yang sudah mulai panjang sementara panitia panik khawatir terjadi korsleting pada perangkat laptop yang berakibat terganggunya system input data dan back up data yang ada. Beruntung hujan hanya sebentar dan udara kembali cerah.
Memang diakui terjadi antrian cukup panjang pada pemilihan kali ini dibandingkan Pileg bulan Maret lalu hal ini karena memang keinginan pemilih untuk menentukan sendiri calon presiden yang begitu tinggi yang dirasa sesuai dengan pilihan hati mereka.
Tetapi ada hal yang tidak mereka ketahui, bahwa mereka sebenarnya tidak mendaftar sebelumnya jadi pemilih sehingga itu memerlukan proses dahulu. Ada juga yang sudah menerima surat tapi bingung mengikuti petunjuk di surat tersebut.
Pada pukul 4.45 Banwaslu sudah menyampaikan melalui pengeras suara bahwa mereka akan menutup tempat kampung TPS Victoria Park tersebut pada pukul 5.00 sore dan meminta semua untuk segera masuk memilih bagi yang belum. Pengumuman ini diulangi lagi 10 menit kemudian.
Pada saat itu masih ada beberapa orang diluar yang masih antri dan akhirnya mereka disuruh masuk semua pukul 4.55 dan langsung diarahkan ke TPS yang dipandu petugas PPLN dan termasuk Bapak Konjen sendiri yang mengarahkan mereka.
Pukul 5.05 panitia menyatakan tidak ada lagi pemilih yang antri diluar dan dengan mengucap rasa syukur kampung TPS ditutup. Bagi yang sudah masuk didalam lokasi masih terus diijinkan memilih di TPS yang ditunjuk sampai semua selesai.
Pukul 5.25 Petugas Banwaslu mengingatkan semua KPPSLN melalui pengeras suara untuk segera membuat rekapitulasi pemilu di masing masing TPS dan menyiapkan 1 copy untu Banwaslu dan 1 copy untuk saksi.
Pukul 5.30 datang serombongan orang yang diperkirakan antara 70 orang sampai 100 yang berteriak teriak menduikung capres No 2 dan meminta diijinkan memilih.
Pertama mereka ditemui oleh petugas PPLN yang jelas jelas mengatakan tidak bisa karena semua TPS sudah tutup dan melakukan rekapitulasi saat itu. Mereka lalu diminta keluar dari pagar pintu masuk ke lapangan.
Para pemilih tersebut tidak puas, lalu tetap berteriak teriak. Lalu kedua dihampiri lagi oleh petugas KJRI yang menjelaskan kepada mereka alasan kenapa tidak bisa diijinkan memilih lagi saat itu. Namun mereka tetap tidak mau terima. MEreka berteriak teriak denagn slogan mendukung Capres No 2.
Kemudian ketiga kali, mereka ini didekati oleh Banwaslu dengan alasan yang sama, bahwa Pemilu Capres sudah ditutup, dan semua TPS sudah tidak ada lagi yang buka untuk menerima pemilih saat itu. Mereka semakin keras berteriak dengan memaksa buka TPS tersebut.
Ketika petugas pembersih lapangan Victoria Park untuk membuka pagar pagar di pintu utama maka mereka semua pun masuk ke lapangan dan berteriak minta diadakan TPS untuk mereka. Jadi tidak benar bahwa mereka mendobrak pintu pagar untuk bisa masuk ke lapangan tetapi pintu pagar sengaja diangkat oleh petugas Hong Kong yang bertugas di Victoria park saat itu.
Pada saat mereka berteriak teriak tersebut, dilapangan masih ada Petugas PPLN, Banwaslu Hong Kong, KPU Pusat, Banwaslu Pusat, Utusan dari Polri, dan Media lokal serta Indonesia yang meliput. Semua upaya dialog dan penjelasan sudah dilakukan kepada mereka namun tetap ditolak.
Panitia tidak bisa lagi membuka TPS karena memang waktu yang diijinkan sudah tutup dan semua TPS sudah melakukan rekapitulasi pemilih yang datang ke TPS saat itu. Sementara keinginan mereka tetap sama yaitu harus bisa memilih saat itu juga dan tentu sebagian mereka tidak punya undangan. Ada beberapa yang punya undangan tetapi mereka tidak mau datang disaat jam yang ditentukan dalam undangan tersebut dengan alasan saat itu panas dan antrian masih panjang. Ada yag ditanya kenapa tadi pukul 5.00 saat disampaikan TPS mau tutup mereka tidak datang kesini tapi mereka malahan marah dan balik berteriak suruh buka sekarang juga.
Saya sendiri sampai sekarang tidak mengerti kemana mereka itu saat diteriaki melaui pengeras suara oleh panitia supaya datang segera ke TPS karena mau tutup tetapi mereka tidak ada datang sama sekali.
Dan kenapa tiba tiba bisa datang sekelompok orang pada waktu yang sama dengan menyatakan dari pendukung partai yang sama dan memaksakan keinginan mereka dengan dipimpin oleh para tokoh mereka yang sebenarnya sudah memilih sebelumnya karena ada bukti di jari mereka yang sudah diberi tinta tersebut.
Saya semakin bingung ketika mereka teriak di sosial media dengan angka yang lebih fantastis lagi menjadi 500 atau bahkan ribuan pendukung capres No 2 dirugikan di Hong Kong.
Saya semakin bingung ketika masalah beralih ke isu lain lain, termasuk adanya petugas yang memilih milih salah satu pendukung capres No 1 saja yang boleh masuk sedangkan capres No 2 tidak boleh. Padahal selama dari jam 9.00 -17.00 isu-isu tersebut tidak pernah ada.
Saya kira para pendukung Capres No 2 yang hadir saat itu dan telah melaksanakan hak pilihnya juga banyak dan bisa memberi penjelasan berimbang akan hal ini.
Semua ini mungkin hanya mereka itu yang bisa menjawab kebenarannya dan saya harapkan biarlah nanti akan terungkap kebenaran secara pelan pelan.
Mata saya sudah melihat, dan sudah saya sampaikan. Silahkan teman teman perhatikan dan analisa sendiri. Semoga apa yang kita berikan untuk tanah air tidak membuat kita bertepuk dada, dan semoga mereka yang salah mengerti akan apa yang dilakukan panitia bisa juga melakukan koreksi diri.
Semoga penjelasan ini dimengerti oleh teman teman semua.
Salam damai dari Hong Kong.









No comments: