Melihat motif dan bentuk aksi-aksi mahasiswa, yang kebanyakan dilakukan organisasi internal kampus seperti BEM UI, IPB, ITB, UNS, UGM, dan BEM-BEM lain di Jawa, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, serta yang berasal dari organisasi eksternal kampus seperti cabang-cabang HMI, PMII, KAMMI maupun yang lainnya, gerakan teresbut masih sebatas gerakan protes. Protes yang bertujuan untuk mengoreksi kebijakan pemerintah yang dinilai salah.
Ada pula terdengar tuntutan agar Jokowi menanggalkan jabatannya karena dinilai tidak mampu, namun lebih banyak berisi tuntutan agar Jokowi benar-benar memperhatikan rakyat dalam setiap pengambilan kebijakannya. Tuntutan lengsernya Jokowi, tampak lebih sebagai bentuk ‘jeweran’ mahasiswa agar suara mereka lebih didengarkan, dan pemahaman sebaliknya (atau mafhum mukhalafah-nya) yang bisa ditarik adalah: mereka hanya menginginkan Jokowi berubah dari perilakunya yang tampak selama menjabat, dan agar melaksanakan janji-janji kampanyenya, itu saja, dan Belum Benar-Benar Menuntutnya Mundur dari Jabatan.
Mahasiswa masih berharap Jokowi bisa berubah. Itu sebabnya mereka pun menginginkan Jokowi menemui mereka dalam dialog-dialog publik yang mereka ajukan dalam demonstrasi belakangan ini.
Faktor lain yang tak bisa diabaikan tentang lengsernya presiden sebelum waktunya, adalah bahwa rakyat sampai saat ini terlihat masih cukup bersabar. Hal itu tak lepas dari kenyataan bahwa sebagian dari mereka (52 persen pemilih dalam Pilpres 2014) memilihnya secara langsung, dan berharap Jokowi benar-benar merupakan gambaran diri mereka sendiri (wong cilik) dan akan mampu menakhodai mereka dalam kehidupan berbangsa setidaknya 5 tahun ke depan, meski usai pencoblosan dan begitu dilantik, mereka melihat satu per satu harapan mereka terbentur dinding.
Yang juga tak kalah penting, adalah elemen militer. Sebagaimana terjadinya Reformasi 98 karena dukungan militer terhadap gerakan mahasiswa. Kini militer terlihat belum terpancing untuk terjun langsung dan menyegerakan suksesi di luar kebiasaan (karena memang masih 4 tahun lagi), dan kehendak berbagai pihak yang tak ingin militer terlalu mengendalikan politik di negeri ini, yang dikhawatirkan mengancam demokrasi.
Tak bermaksud meremehkan gerakan mahasiswa atau meremehkan aksi turun ke jalan, namun fase yang terjadi saat ini memang belum mencapai kekuatan untuk terjadinya pelengseran seorang presiden. Meski begitu, patut disayangkan adanya upaya mobilisasi relawan sebagai gerakan tandingan, karena bisa mengadu-domba rakyat.
Sumber : HMINews.com
Ada pula terdengar tuntutan agar Jokowi menanggalkan jabatannya karena dinilai tidak mampu, namun lebih banyak berisi tuntutan agar Jokowi benar-benar memperhatikan rakyat dalam setiap pengambilan kebijakannya. Tuntutan lengsernya Jokowi, tampak lebih sebagai bentuk ‘jeweran’ mahasiswa agar suara mereka lebih didengarkan, dan pemahaman sebaliknya (atau mafhum mukhalafah-nya) yang bisa ditarik adalah: mereka hanya menginginkan Jokowi berubah dari perilakunya yang tampak selama menjabat, dan agar melaksanakan janji-janji kampanyenya, itu saja, dan Belum Benar-Benar Menuntutnya Mundur dari Jabatan.
Mahasiswa masih berharap Jokowi bisa berubah. Itu sebabnya mereka pun menginginkan Jokowi menemui mereka dalam dialog-dialog publik yang mereka ajukan dalam demonstrasi belakangan ini.
Faktor lain yang tak bisa diabaikan tentang lengsernya presiden sebelum waktunya, adalah bahwa rakyat sampai saat ini terlihat masih cukup bersabar. Hal itu tak lepas dari kenyataan bahwa sebagian dari mereka (52 persen pemilih dalam Pilpres 2014) memilihnya secara langsung, dan berharap Jokowi benar-benar merupakan gambaran diri mereka sendiri (wong cilik) dan akan mampu menakhodai mereka dalam kehidupan berbangsa setidaknya 5 tahun ke depan, meski usai pencoblosan dan begitu dilantik, mereka melihat satu per satu harapan mereka terbentur dinding.
Yang juga tak kalah penting, adalah elemen militer. Sebagaimana terjadinya Reformasi 98 karena dukungan militer terhadap gerakan mahasiswa. Kini militer terlihat belum terpancing untuk terjun langsung dan menyegerakan suksesi di luar kebiasaan (karena memang masih 4 tahun lagi), dan kehendak berbagai pihak yang tak ingin militer terlalu mengendalikan politik di negeri ini, yang dikhawatirkan mengancam demokrasi.
Tak bermaksud meremehkan gerakan mahasiswa atau meremehkan aksi turun ke jalan, namun fase yang terjadi saat ini memang belum mencapai kekuatan untuk terjadinya pelengseran seorang presiden. Meski begitu, patut disayangkan adanya upaya mobilisasi relawan sebagai gerakan tandingan, karena bisa mengadu-domba rakyat.
Sumber : HMINews.com











No comments: