![]() |
| Dubes Jerman, Georg Witschel (kedua kanan) saat berkunjung ke hutan Senadia |
Boleh jadi, hutan Senadia cukup istimewa bagi Georg. Hutan tersebut menjadi proyek percontohan perencanaan pemantauan dan evaluasi pembangunan emisi berbasis lahan yang dilakukan seara aktif dan partisipatif oleh masyarakat di Kampung Yepase dan Kampung awambena yang terletak di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura-Papua.
Georg beserta 12 delegasi lainnya dari Jerman memang sengaja melakukan forest walk di hutan yang menjadi tempat beraktifitas warga setempat untuk berkebun atau sekedar mencari kayu bakar. Georg sengaja mengajak delegasi yang berasal dari pimpinan akademisi, para investor dan pimpinan kamar dagang industri Jerman melihat dari dekat hutan tersebut.
"Ya, kira-kira kita akan jalan menyisiri hutan ini sekitar 5 kilometer hingga tiba di Kampung Yepase. Hati-hati jalannya, jangan injak akar, sebab licin, karena habis hujan tadi malam," ujar Wellem, 35 tahub, salah satu penduduk asli setempat yang menjadi pemandu jalan siang itu.
Hutan Senadia memang layak menjadi penyedia cadangan karbon dan air baku, sebab masih asli dan juga hidup keanekaragaman hayati didalamnya. "Hutan ini termasuk hutan adat. Kami masyarakat disini bersepakat untuk tidak merusak hutan dan isi didalamnya," tambah Wellem.
Semangat Duta Besar Jerman dan para delegasi yang diikuti oleh belasan pegawai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tak kalah dengan antusias Wellem dan beberapa masyarakat setempat yang sengaja menjemput rombongan itu.
Georg yang menggunakan kemeja putih dan celana kain berwarna krem ditambah dengan sepatu yang didesain untuk hiking terus berjalan menyusuri jalan setapak di hutan itu. Sesekali dia berhenti untuk sekedar mengamati tumbuhan dan bunyi sejumlah binatang didalam hutan tersebut. Keringat yang membasahi kemeja Georg tak menghentikan langkahnya untuk terus menyisiri jalan setapak yang menanjak dan menurun itu.
"Hutan Papua masih asli. Tempatnya bagus dan pemandangannya indah. Banyak hutan di Papua yang layak dijadikan tempat wisata dan saya yakin akan dapat menyedot banyak wisatawan nantinya," katanya, Senin (25/5).
Apalagi Papua saat ini menjadi tempat terbaik di dunia. Dengan adanya hal itu, maka pihaknya akan memberikan rekomendasi kepada Kementrian Kerjasama di Berlin untuk memberikan program kepada pemerintah dan masyarakat Papua untuk mengelola keanekaragaman hayati dan lingkungan. "Kedepan, kami akan memberikan rekomendasi untuk project ini bahwa bagus dilaksanakan di Papua, dengan melihat kondisi hutan dan sumber daya alam lainnya," jelasnya.
Georg mengaku isu keamanan di Papua memang masih terjadi masalah, tetapi itu tak akan mengganggu penggarapan project ini. "Saya tahu banyak isu keamanan di Papua. Tetapi saya yakin itu hanya terjadi di beberapa wilayah yang ada di Papua. Buktinya, saya menginap beberapa hari di Wamena dan tak ada masalah. Kota dengan julukan Lembah Baliem ini juga sangat indah, beberapa lokasi juga kami kunjungi disana dan semua aman-aman saja. Begitu juga dengan wilayah Raja Ampat dan Sorong, semua daerah itu aman-aman saja dan buktinya saat ini, kita berada di Kabupaten Jayapura dan tak ada gangguan apapun," urainya.
Usai blusukan di hutan tersebut, Georg melakukan tatap muka dengan penduduk Kampung Yepase dan berjanji akan memberikan project untuk Papua. "Fokus kami sementara ini adalah di Sumatera dan Kalimantan. Namun kami yakin akan memberikan dana bantuan kepada Papua kedepan," ucapnya.
Bantuan untuk Indonesia
Georg menyebutkan sejak 2007 silam, Pemerintah Jerman telah menggelontorkan lebih dari 1 miliar euro untuk perubahan iklim dan energi di Indonesia, khususnya Sumatera dan Kalimantan. Begitu juga dana 1000 euro untuk infrastruktur dan sejumlah dana lainnya. Kunjungan kerja ini sebagai tindak lanjut upaya pemerintah Jerman dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Papua.
Dukungan tersebut melalui Deutsche Gesellschaft fürInternationale Zusammenarbeit (GIZ) di wujudkan dalam program Locally Action Mitigation In Indonesia (LAMA-I) dan Green Economy and Locally Action Mitigation In Indonesia (GE-LAMA-I) dengan dana dukungan dari DANIDA dan Kementerian Lingkungan Hidup Pemerintah Jerman (BMUB).
Melalui program LAMA-I Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman sepakat untuk melakukan kerjasama dalam peningkatan kapasitas daerah agar para pihak daerah dapat merencanakan, melaksanakan dan melakukan pemantauan dan evaluasi kegiatan-kegiatan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
Tak hanya itu, Dubes Jerman dan belasan delegasi ini juga melakukan pemantauan langsung ke lokasi pembangunan Pelabuhan Peti Kemas di Distrik Depapre. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan terbaru pembangunan pelabuhan peti kemas dan melihat dampak dari pembangunan pelabuhan, untuk ekonomi masyarakat sekitar, sekaligus melihat dampaknya terhadap lingkungan sekitar pelabuhan.
Program Emisi Karbon
Kepala Kampung Yepase, Yohan Hendrik Yepassdanya menyebutkan kampung dengan mayoritas bermata pencaharian bertani dan nelayan itu ditempati oleh 315.000 atau 77 kepala keluarga. "Kami senang dan menyambut baik dengan masuknya project tentang perlindungan hutan. Dengan adanya pelatiahn sejumlah program ini, sedikit banyak kami sudah mengetahui tentang fungsi hutan dan kandungan yang ada didalam hutan ini untuk apa saja. Ada beberapa kelompok yang melakukan pengukuran emisi karbon di hutan adat kami dan praktek ini masih terus dilakukan," katanya.
Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jayapura, Hanna Hikoyabi menuturkan project kerjasama Pemerintah Jerman dengan Pemerintah Kabupaten Jayapura telah dilakukan sejak 2013 silam. Project yang dilaksanakan adalah pengitungan emisi karbon yang dilaksanakan oelh masyarakat adat setempat di sekitar hutan tempat tinggal masyarakat. "Saat ini sudah terbentuk kelompok kerja dalam penghitungan karbon ini di Kampung Yepase dan Wambeda. Ada sekita 70 orang dalam kegiatan tersebut yang terlibat langsung," kata Hanna.
Project yang dilaksanakan hingga 2017 tersebut juga melakukan penambahan kepada dua kampung lainnya yakni Kampung Unurumguay dan Asei Timur. "Untuk dua kampung ini, masih dilakukan pemetaan dan diharapkan dalam waktu dekat masyarakat setempat juga akan terlibat langsung dalam menghitung ketersediaan emisi karbon pada hutan disekitar mereka," katanya lagi.










No comments: