![]() |
| Rumah milik Lami (warga Desa Lewonu yang di Bedah/Rehab). |
BURAU, LUWU TIMUR - Rona kebahagiaan tidak
tampak pada masyarakat miskin di Desa Lewonu, Kecamatan Burau, Kabupaten
Luwu Timur, Provinsi Sulawesi selatan, yang mendapat bantuan untuk
rehab rumah dalam program bedah rumah yang di anggarkan dari Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Luwu Timur. Program bedah
rumah tersebut tidak karu-karuan dan sangat mengecewakan, karena buntut
dari bedah rumah yang mereka dapatkan justru menimbulkan kesengsaraan
baru bagi warga.
Para penerima bantuan mengatakan, akibat dari program bedah rumah tersebut akhirnya mereka sengsara. Seperti yang dirasakan warga yang mendapat program bedah rumah, Lami. Menurutnya, bantuan bedah rumah senilai Rp 5 juta yang bentuknya bukan uang kes (cash) tersebut, membuat dirinya beserta anaknya harus numpan di salah satu rumah keluarganya.
"Saya dengan dana untuk bedah rumah Rp 5 juta, tapi yang kami dapatkan hanya atap seng saja, kalau di hitung ini harga seng tidak cukup Rp 5 juta, saya juga menyesal terimah bedah rumah ini, katanya di bedah (rehab) justru tidak bisa di tempati," ujar Lami, salah satu warga yang mendapat bedah rumah, Selasa (3/6/14).
Selain Lami, warga Desa Lewonu lainnya yang bernama Hengki juga mengalami nasib yang sama. Menurut, Syamsir Kepala Dusun Manangalu, Desa Lewonu, Kecamatan Burau, tidak mengetahui mengenai pelaksanaan bedah rumah tersebut, karena dirinya tidak di libatban sebagai kepala dusun, dia hanya mendengar bahwa ada rumah warganya yang di bedah (Rehab-Red) namun rumah warga tersebut tidak dapat di fungsikan seperti sebelum di rehab.
"Saya tidak tahu itu, karena pada saat pelaksanaan bedah rumah warga, saya sama sekali tidak dilibatkan oleh Kepala desa (Kepala Desa Lewonu-Red), karena katanya sudah ada Panitianya," tutur Syamsir.
Panitia bedah rumah yang ditemui di Kantor Desa Lewonu, mengakui bahwa, ke-dua unit rumah warga tersebut memang terbengkalai, alasan pihak panitia bedah rumah anggarannya sudah habis.
"Memang ada 5 rumah warga yang di bedah (Rehab-Red), masing-masing rumah dianggarkan Rp 5 juta, yang sudah selesai ada 3 unit rumah, yang 2 unit rumah itu memang masih terbengkalai, karena anggarannya sudah habis," kata panitia, yang tidak ingin namanya disebutkan.
Para penerima bantuan mengatakan, akibat dari program bedah rumah tersebut akhirnya mereka sengsara. Seperti yang dirasakan warga yang mendapat program bedah rumah, Lami. Menurutnya, bantuan bedah rumah senilai Rp 5 juta yang bentuknya bukan uang kes (cash) tersebut, membuat dirinya beserta anaknya harus numpan di salah satu rumah keluarganya.
"Saya dengan dana untuk bedah rumah Rp 5 juta, tapi yang kami dapatkan hanya atap seng saja, kalau di hitung ini harga seng tidak cukup Rp 5 juta, saya juga menyesal terimah bedah rumah ini, katanya di bedah (rehab) justru tidak bisa di tempati," ujar Lami, salah satu warga yang mendapat bedah rumah, Selasa (3/6/14).
Selain Lami, warga Desa Lewonu lainnya yang bernama Hengki juga mengalami nasib yang sama. Menurut, Syamsir Kepala Dusun Manangalu, Desa Lewonu, Kecamatan Burau, tidak mengetahui mengenai pelaksanaan bedah rumah tersebut, karena dirinya tidak di libatban sebagai kepala dusun, dia hanya mendengar bahwa ada rumah warganya yang di bedah (Rehab-Red) namun rumah warga tersebut tidak dapat di fungsikan seperti sebelum di rehab.
"Saya tidak tahu itu, karena pada saat pelaksanaan bedah rumah warga, saya sama sekali tidak dilibatkan oleh Kepala desa (Kepala Desa Lewonu-Red), karena katanya sudah ada Panitianya," tutur Syamsir.
Panitia bedah rumah yang ditemui di Kantor Desa Lewonu, mengakui bahwa, ke-dua unit rumah warga tersebut memang terbengkalai, alasan pihak panitia bedah rumah anggarannya sudah habis.
"Memang ada 5 rumah warga yang di bedah (Rehab-Red), masing-masing rumah dianggarkan Rp 5 juta, yang sudah selesai ada 3 unit rumah, yang 2 unit rumah itu memang masih terbengkalai, karena anggarannya sudah habis," kata panitia, yang tidak ingin namanya disebutkan.










No comments: