![]() |
| Andi Arief, Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana |
Setelah letusan Dahsyat Merapi 2010, pengetahuan kita, manusia yang hidup di era sekarang ini semakin bertambah paska letusan Dahsyat 13 Februari 2014. Kita menyaksikan bahwa bukan hanya ancaman jiwa saja yang terjadi, tetapi ancaman perekonomian dan keberlangsungan peradaban sedikit tergambar, minimal hari ini. Ada kebutuhan baru dalam penanganan bencana, tidaklah cukup mitigasi itu dilakukan untuk umat manusia yang ada di sekitar gunung yang meletus saja, tetapi terbayang betapa pentingnya opsi mitigasi bangsa ini agar terhindar dari katastrofi baik karena letusannya maupun efek sesudahnya. Alam Takambang jadi guru, itulah pepatah minang yang mengandung pesan mitigasi buat bangsa ini.
Kita bersyukur letusan dahsyat Kelud tidak ada korban jiwa langsung atas letusan itu. Mudah-mudahan letusan bisa cepat berakhir, dan masyarakat dan semua di pengungsian disiplin memenuhi aturan otoritas yang berwenang agar tidak masuk zone larangan.
Anomali letusan Gunung Kelud mengakibatkan hampir semua bandara di Pulau Jawa nyaris lumpuh total. Dapat diartikan nadi perekonomian Pulau Jawa sangat terdampak. Ini pelajaran luar biasa agar kita semua sedikit tergambar model erupsi gunung api yang dampak letusannya berskala lebih besar lagi, baik regional maupun Internasional.
Letusan Krakatau dan Tambora bahkan Toba yang dibaca di berbagai buku kini cerita itu sedikit tergambarkan. Bukan hanya persoalan bandara tapi juga berubahnya iklim dunia bahkan kepunahan massal bukan fiksi. Prosesnya bisa mulai terbayangkan. Kita belum tahu persis bagaimana masa Krakatau dan Tambora erupsi besar ada yang mampu bertahan, faktanya ada yang mampu bertahan.
Tak ada alasan untuk mengatakan tak mungkin ada sekelas Krakatau dan Tambora di waktu-waktu mendatang karena pengulangan letusan itu sudah benar-benar terjadi. Paling tidak, konsepsi ketahanan energi dan ketahanan pangan kita harus melompat dari sekedar isu politik menjadi soal serius ketahanan bangsa.
Perekonomian kita yang notabene lebih bertumpu pada kekayaan pangan dan energi, bukan hanya untuk berdikari tapi harus punya ketahanan sangat luar biasa sehingga tidak ringkih atas efek bencana alam. Erupsi Kelud, menjadi guru berharga jika kita refleksikan ke gunung anak Krakatau. Sebelum anak Krakatau atau gunung lain sekelasnya menggeliat, ketahanan pangan dan energi tidak bisa dihindari harus benar-benar mandiri dan cukup untuk jangka panjang..
Kita harus punya kilang minyak sendiri. Dewan Energi termasuk di dalamnya Pak Andang Bachtiar dan semua yang berkompeten di bidangnya harus mulai membuat road map antisipasi kondisi seperti ini. Memang seperti di beberapa negara, Dewan Energi harus didampingi dewan yang kapabel untuk melakukan 'scoring' possible disaster efek kepada ketahanan energi demi menopang hajat hidup orang banyak dan kelangsungan NKRI.










No comments: